Dari pagi langit sudah mendung tapi hujan ga niat turun. Ya ga papa juga sih. Bagus malah. Jadi hari ini ga perlu berpanas-panas ria. Toh hari ini ga ada cucian jadi ga terlalu butuh sengatan matahari yang panasnya – pinjam istilah adikku – seperti neraka bocor.
Siangnya langit masih mendung. Aku juga masih cuek – cuek aja.
Begitu magrib datang dan malam menjelang, langit pun menjadi hitam kelam. Tak ada bintang. Tak ada sinar bulan. Jadi ga bisa romantis-romantisan. Tiga jam kemudian awan mulai mengeluarkan muatan. Kilat menyambar, menyilaukan mata sebentar. Di susul guntur dengan echo yang menggetarkan jendela dan atap rumah. Lalu yang di tunggu pun brojol berhamburan dalam format molekul H20.
Tes.. tes.. tes.. Perlahan namun pasti, titik – titik air mulai membasahi bumi pertiwi. Menebar aroma surgawi. Mengundang udara dingin masuk ke relung hati.
Weitz… ! Ngapain bawa - bawa hati ? Entahlah. Mungkin karna aku ngerasa sedih malam ini. Sendiri, bengong, lom bisa tidur, ditemani nyanyian hujan dan rintihan jangkrik. Malam jadi terasa lebih sepi dari biasanya. Lalu mata melamun menembus bayangan dan pikiran melayang merobek tirai waktu. Menghempaskan diri dalam memori sebuah senyuman yang lama ga ku lihat. Menelusuri saat dia dekat hingga saat dia jauh. Ah jadi kangen kan..
Sutralah. Mending bobo aja. Aku lagi males kangen malam ini. Ku matikan lampu kamar, tarik selimut, peluk guling, melungker dalam kehangatan Winnie The Pooh, taruh hp di bawah bantal dan pejamkan mata sambil berharap satu saat aku akan melihat senyum itu lagi.
hahahaha…. kata2mu lucu lho..
aku ga nyangka kamu yg keliatannya pendiem ternyata kocak juga..
heheheh…
20 January, 2008 @ 9:19 am