<

Almarhum dosenku pernah ngasih cerita yang di dapat dari sahabatnya. Cerita tentang anak nakal yang bikin migren ayahnya. Si ayah kemudian memberinya sekantong penuh paku dan menyuruhnya memaku satu paku ke pagar pekarangan tiap kali si anak berantem atau bikin ulah.

Pada minggu pertama, si anak memaku sebanyak 37 paku. Tangannya mulai terasa capek dan nyeri. Kemudian dia berfikir lebih baik menahan diri daripada jari ikut kena sasaran martil. Pada minggu – minggu selanjutnya si anak belajar untuk menahan diri dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari sampai akhirnya dia tidak perlu lagi memaku di pagar. Si anak dengan gembira menceritakan kepada ayahnya.

Kemudian ayahnya menyuruhnya mencabut satu paku setiap kali si anak berhasil menahan diri. Setelah beberapa minggu, akhirnya si anak berhasil mencabut semua paku yang ada di pagar. Dengan perasaan gembira si anak melaporkan ke ayahnya.

Ayahnya lalu membawa si anak ke pagar dan berkata” kamu sudah berbuat baik nak. Tapi coba lihat ada berapa banyak lubang di pagar ? Pagar ini ga akan kembali seperti semula. Sama dengan hati kita. Jika kita menyakiti orang lain, hal itu akan menimbulkan luka, seperti pagar. Kamu bisa menusukkan pisau ke punggung orang dan mencabutnya lagi, tapi itu akan meninggalkan luka. Ga perduli berapa kali kamu minta maaf / menyesal. Luka akan tetap ada. Luka karena ucapan sama perihnya seperti luka fisik. Hati-hatilah dengan mulutmu.”

April 28th, 2007 at 7:50 am


One Response to “Si anak nakal”
  1. 1
      Nur Iman says:

    len kowe yo iso nulis tho…
    wah ra ngiro yen kowe iso nulis…
    apik banget tulisanmu