Dingin. Dingin sekali malam itu. Walaupun jendela mobil sudah ku naikkan pol dan ac pun sudah dimatikan, tapi udara dingin dari rintikan hujan di luar tetap menembus masuk dan membuat badan kerempengku menggigil kedinginan. Ku kancingkan jaketku rapat-rapat.
Sepi. Tak ada yang bersuara. Semuanya malas bicara karna capek, dingin dan ngantuk. Adikku tidur melungker di sebelahku seperti udang goreng. Jalanan sunyi senyap walaupun saat itu tinggal beberapa hari lagi menjelang lebaran. Tak ada lampu jalan. Sinar lain hanya berasal dari lampu kendaraan yang kadang berpapasan. Di kiri kanan jalan terlihat bayangan hitam pepohonan. Kadang rasanya pohon-pohon itu mengikutiku. Dulu pernah ku lihat wanita berbaju merah melayang–layang di situ. Rambutnya hitam, tebal dan keriting seperti mie goreng kebanyakan kecap. Giginya tonggos dan matanya belo melotot. Tampangnya jelek sekali. Melihatnya membuat perasaan depresi. Tapi sepertinya malam ini dia tak ada. Aku tak melihat apa-apa, hanya gelap malam.
Baru sekitar satu jam keluar dari Bakauheni. Masih jauh sampai ke Palembang. Aku terbanting-banting di jok belakang saat roda kendaraan menghantam lobang aspal. Seorang bocah berdiri di pinggir jalan dan nyaris tertabrak. Aku kaget. Yang pegang setir juga kaget. Seperti serbuan senjata otomatis, mulutnya langsung memuntahkan serapah. Si bocah itu pun kaget. Refleks dia mundur ke belakang. Badannya yang kecil terlihat mengkerut di bawah siraman hujan. Dia hanya mengenakan celana pendek. Kedua tangannya rapat menempel di samping badan memegang erat sepotong bambu. Aku menebak umurnya baru sekitar sembilan atau sepuluh tahun, sepantaran denganku. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Ekspresinya terlihat tegang dan takut. Dia diam tak bersuara. Matanya yang bening berkilau menatapku, menembus jendela mobil dan terpancang di bola mataku. Sekilas aku teringat pantulan sinar matahari senja di atas lautan. Dia menatapku sampai jauh. Sampai ekor mata tak dapat lagi melihat bayangan.
Kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik itu tercetak di kepalaku hingga belasan tahun kemudian. Kadang frame itu mencuat, memotong tiba-tiba seperti iklan di tengah–tengah sinetron. Siapa bocah itu? Ngapain dia di sana? Apa yang di lakukannya di tengah malam, hujan, di pinggir jalan, di tempat yang sepertinya jauh dari peradaban? Mengapa hujan begitu dia tidak memakai baju ? Dia tidak terlihat seperti gembel. Kulitnya putih bersih dan celananya pun tidak lusuh. Apa dia sendirian saat itu ataukah ada orang lain? Aku tidak melihat ada kendaraan, rumah atau orang lain saat itu. Apa dia masih hidup? Mengapa wajahnya kelihatan takut? Apa dia takut tertabrak mobil? Atau ada hal lain yang membuatnya takut? Apa yang dia lakukan dengan sepotong bambu di tangannya? Aku sangat penasaran. Dan setiap mengingatnya, entah kenapa aku merasa bersalah.